AHLI SURGA DI RUMAHKU

Dari semua kehebohan yang terjadi beberapa hari ke belakang, satu kalimat dari si sulung kemarin adalah jawaban. “Aa pengen main sama bunda”😭. Sehari sebelumnya, adiknya (yang di panggil Kaka Maryam), mengungkapkan kalimat senada.
Terlepas sudah merasa full menemani atau belum, nyatanya ada yang kurang yang mereka rasakan belakangan. Dan harus di akui bahwa perubahan itu ada. Mungkin perlu lagi cermat mana yang prioritas mana yang harus bisa diabaikan. Jelas mendampingi anak haruslah masuk kategori urgen. Bukankah 0-7 tahun masih kategori dalam dekapan..?

WANITA AKHIR ZAMAN

Menjadi seorang wanita adalah karunia dari Allah. Merasa dimuliakan oleh-Nya melalui syariat yang ada. Mulia karena wanita makhluk yang harus dilindungi, selalu memiliki wali/ qowwam. Mulia karena Allah wajibkan hijab untuk menjaga mutiara dalam diri. Mulia karena tertakdir mengandung dan menyusui, aktifitas mulia yang tiap tetes peluh dan air susu akan ditukar dengan pahala dan ampunan. Mulia karena kata-katanya keramat sebagai seorang ibu. Apalagi yang harus saya ingkari? Sungguh keistimewaan yang tiada bandingan.

Namun, bagaimana dengan kondisi sekarang yang serba sulit, terjepit, banyak godaan duniawi yang memang godaan terbesar wanita? Hey, itulah sifat akhir jaman. Banyak fitnah merebak, banyak makar mengakar, bahkan syariat terkadang jadi kelakar. Semakin didekatkan kita dengan kehidupan duniawi. Kehidupan fatamorgana yang seolah syurgawi, padahal ianya gerakan syaithoni.

Air Matamu?

Ramadhan akan segera berakhir. Tak lama lagi ia akan meninggalkan kita. Ya, dia akan pergi dalam waktu yang lama. 11 bulan. Semoga saja hanya 11 bulan.

Mengalami kondisi pandemi di bulan Ramadhan tentu istimewa. Istimewa mengalami berbagai rasa. Saya yakin seyakinnya, menjelang detik Ramadhan berakhir akan ada air mata yang lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya..

Saya yakin ada banyak air mata kesyukuran karena terbuka betapa berharganya nikmat sehat.

Banyak air mata kesungguhan menghiba ampunan dan memohon dijauhkan dari marabahaya, dan mereka semakin dekat dengan Rabbnya.

Banyak air mata menetes karena welas asihnya pada manusia lalu berderma. Bersamaan itu banyak yang menangis karena ternyata masih diperhatikan sesama.

Atau…

Air mata itu karena penyesalan bulan yang nyatanya banyak tersia. Yang katanya merindu tapi tak mencumbu dengan sepenuh cinta.

Air mata yang merindu keluarga besar dan keinginan kuat merengkuh tubuh ibunda.

Air mata dalam doa-doa yang tak sanggup terucap tapi mengguncang langit dengan lafal-lafal dzikirnya..

Air matamu yang mana?

اللهم انك عفو تحب العفو فاعف عني

يا ارحم الراحمين ارحمنا يا الله

Mohon maaf lahir batin🙏

Dari seorang hamba yang fakir

Ika Herawati/ bunda YM

PAGI DI TENGAH COVID-19

Hari masih pagi, namun hatiku menangis. Netra tak kuasa tumpahkan airnya kala membaca kisah Melanie sang perawat. Kuingat kembali kumpulan kisah mereka yang ku baca. Para pejuang di garda terdepan wabah global ini.. Robbanaa.. ya, mereka pejuang. Pejuang kemanusiaan. Yang yakin Engkau catat mereka sebagai syuhada bagi yang beriman.

Duhai Allah.. apa kontribusi ku dalam perkara ini? Apa yang Engkau tanyakan kelak padaku saat perjumpaan, peranku di situasi ini? Aku yakin dengan murahnya Rahmat-Mu Robbiy..

Semua mengeluh dengan kondisi ini. Semua bersedih datangnya wabah ini. Sudahkah keluhanmu, kesedihanmu kau adukan pada Sang Kholiq? Sudahkah ketakutanmu kau sampaikan pada Sang Hafidz? Sudahkah kau rendahkan dirimu pada Mutakabbir yang berkenan atas kejadian ini? Lantas, sudahkah kau menghiba pada-Nya atas kebaikan takdir ini untukmu dan kelapangan menerimanya?

Wahai diri.. Masihkah kesombongan bertahta di hatimu?

Masihkah kepongahan menyelinap di dirimu?

Sudahkah kau lihat betapa Kuasanya DIA yang menggenggam jiwamu?

Sudahkah kau akui betapa Besarnya Tuhanmu mampu mengguncang kehidupanmu hanya dengan satu makhluknya saja?

Pergilah letakkan mukamu pada sajadahmu..

Basahi lisan dengan rapalkan dzikir-dzikir..

Penuhi hatimu dengan harap hanya pada-Nya..

Hidupkan malam-malammu yang biasa lelap tanpa cahaya..

Kapan lagi kau maknai IA cemburu..

Kapan lagi kau merasa dipanggil dalam peluk-Nya..

لا اله الا انت سبحانك اني كنت من الظالمين

KAKAK LAKI-LAKI

Dulu saat usia belasan, saya sangat ingin memiliki kakak laki-laki. Namun kemudian keinginan itu terhapus karena menerima takdir😇. Begitupun mencoba menganggap seseorang atau dua orang sebagai kakak. Tapi hasilnya malah pada satu quote: tak ada kedekatan sebagai saudara diantara lawan jenis😉.
Kini saat melihat putriku seringkali dimanjakan aanya, suka iri deh😄. Waktu adeknya belum bisa pake sendal, sering aa pakein. Mau minum bergegas diambilin, ada yang jailin adeknya dia maju nasehatin, adeknya nangis mau apa begitu perhatian. Sampai-sampai tak jarang bunda melarangnya untuk berbuat berlebihan. Khawatir pengaruh pada kemandirian adiknya.
Kejadian barusan juga so sweet banget. Si aa rela bolak-balik demi memenuhi keinginan adeknya😅.

Ceritanya aa minta jajan di blok sebelah. Bunda dan dan adiknya mau pergi ke warung, sempat lewat ke tempat aa jajan. Ternyata aa ga sendirian. Si Abang kue keliling itu hampir tak terlihat saking banyaknya anak mengelilinginya 😅. Sambil berlalu di atas motor adiknya bilang “nanti kaka mau minta ah kuenya ke aa”. Saya balas “boleh, bilang dulu ke aa”.

Setelah dari warung hal itu sempet terlupa. Pastinya si aa makan kue bersama teman-teman mainnya dong di sana. Dan benar ternyata. Tak lama kami tiba di rumah aja datang. Terus adiknya nanyain kue. Dengan santainya aa jawab habis. Langsung deh adiknya nangis, sementara aanya bengong😅. Terus bunda jelaskan. Aa langsung nawarin balik lagi untuk beliin kue buat adek. So sweet kaan…😍 Dan lucunya dia kesana pake sepeda. Sementara kuenya ga pake pembungkus. Sempat bunda tanya sebelum berangkat, bisakah nanti bawa kue sambil naik sepeda. Tentu dia jawab “bisa” penuh semangat. Padahal eh padahal…

“Bunda, kuenya jatuh,” aa datang dengan tergesa. Sudah kuduga😅. Akhirnya dia nawarin beli lagu. Alhamdulillah kali ini saya langsung sadar agar adik M mengikuti sebagai tanggung jawab atas keinginannya. Dan merekapun pergi berdua dengan aa rela jalan kaki karena adiknya ga mau jalan sendiri. Masyaa Allah.. Haadzaa min fadhli Robbiy..

Kue sarang laba-laba

ANAKKU BELAJAR MEMBACA


Usianya lima tahun tiga bulan. Bundanya tak pernah ajari dia berhitung maupun membaca. Tapi di usia 3 tahun dia lengkap menghafal urutan satu sampai sepuluh. Di usia 4 tahun dia mulai mereka-reka menulis angka 1-10 serta hafal banyak huruf dari alfabet. Kalau Hijaiyah? Jangan tanya, justru itu fokus bundanya. Mengajarkan Hijaiyah dan membaca Alquran sebelum yang lain. Tapi apa boleh dikata. Ternyata alfabet dan angka-angka lebih familiar baginya. Frekuensi dia melihat huruf Al-Qur’an sepertinya kalah jauh dibandingkan alfabet yang kemanapun pergi pasti menjumpai. Di spanduk, majalah, papan nama, dan lain sebagainya.

Bunda tidak pernah menyuruh dia menghafal huruf A sampai Z. Bunda cukup menempelkan poster alfabet di pintu kamarnya. Sambil bernyanyi menunjukkan setiap hurufnya. Itupun yang saya ingat sangat jarang. Terlebih setelah usianya 4 tahun hampir sudah tidak mengajaknya nyanyi, tapi dia suka nyanyi sendiri😄. Kekuatannya di auditori memang harus dikelola dengan optimal. Ini PR bundanya. Dengan kekuatan pendengaran, dia mampu hafal alfatihah lengkap saat usianya dua tahun. Tak heran lagu-lagu yang bunda nyanyikan untuknya pun hafal dan ingat meski bunda sudah jarang membersamai nyanyi. Jadi selama ini aktifitas belajarnya banyak di dominasi oleh aktifitas gerak dan mendengarnya.

Dua malam kemarin, tepatnya malam Rabu 22 Januari baru bunda tersadar. Perkembangan interaksi aa dengan buku. Ternyata aa sudah mau membaca. Alhamdulillah haadzaa min fadhli robbii. Saat bunda buka buku tahsin, untuk penyegaran belajar iqra aa dengan sumber yang berbeda. Dan dia antusias. Seperti biasa dia melihat tulisan yang ada, termasuk di sampul depan. Dia berusaha mengeja, dan dengan terbata akhirnya keluarlah “tah-sin” dari mulutnya.

“Ini dibacanya tah-sin ya bunda?,” Ujarnya. Bunda pun menyadari itu adalah kata pertamanya yang ia baca tanpa bantuan sedikitpun. Masyaa Allah. Biasanya aa menanyakan dulu dan Bunda memberi arahan. Beberapa pekan ini kebiasaan aa ketika melihat tulisan pasti berusaha mengeja huruf-huruf yang ada, paling tidak dia tanya “ini dibacanya apa bunda?.”

Terkadang bunda bingung harus bahagia ataukah tidak. Di usia yang katanya belum cukup untuk belajar calistung dia sudah bersemangat belajar. Tapi jika ditelisik lagi, ini memang bukan proses yang instan. Ada tahapan, yang semoga tepat, tujuannya memang mencintai belajar. Bunda hanya berusaha melaksanakan tahapannya. Sebisa mungkin tidak melulu terfokus pada hasil. Bersyukur dan selalu bersyukur mungkin itulah yang tepat untuk dilakukan. Bersyukur bahwa semua Allah yang berikan. Bersyukur untuk tetap ingat masih banyak PR ke depan. Bersyukur agar selalu ada di jalur yang benar.

Semoga Allah mudahkan aa dan Kaka terutama untuk belajar Alquran. Adapun pelajaran lainnya yang Allah berikan, itu adalah bonus dan penunjang misi hidup mereka yang harus di emban kelak. Semoga Allah selalu menjaga kalian ya anak-anakku😘.

The Jungle of Knowledge

Menjadi ulat ternyata harus ingat peta yang dibuat😄. Agar tidak mudah tersesat. Untuk pekan ini, belajar saya belum optimal. Saya rangkum dengan sangat singkat dalam jurnal ini.

Rasanya di Kelas Telur itu…

Saya ingin sedikit mereview tahapan yang telah dilalui di kelas telur.

Tahap pertama, saya mencari aktifitas yang bisa dan saya sukai. Lalu saya tuliskan 5 hal utama yang saya inginkan lebih baik pada telur hijau.

Tahap kedua, saya menuliskan keterampilan belajar untuk menunjang 5 hal yang saya tulis di telur hijau. Bisa juga dengan menelusuri hal yang mungkinjadi penghambat saya menemui telur hijau. Saya tuliskan keterampilan yang harus saya pelajari itu ke dalam telur merah.

Tahap selanjutnya adalah menghasilkan telur oranye. Tahap ini saya tentukan tujuan belajar selama minimalnya 4 bulan ke depan. Tentukan pula gaya belajar yang nyaman untuk diri saya.

Tahap sebelum telur menetas adalah tahap membuat peta belajar. Berisi rincian pengetahuan apa agar saya terampil dan mencapai tujuan belajar yang dituliskan ditahap sebelumnya.

Melewati empat tahapan di kelas telur mengingatkan kembali akan kebiasaan diri yang sistematis, terencana. Tapi itu dulu. Kata orang, terlalu perfeksionis. Tidak semua yang terjadi itu sesuai rencana. Saya acuh meresponnya. Karena saat merencanakan sesuatu adalah hal membahagiakan bagiku, seperti saya tuliskan dalam jurnal 1 di kelas telur😍. Tapi seiring berjalannya hari dan tahun serta aktifitas yang menyita waktu, sampailah saya pada titik ini. Banyak berpasrah diri dengan apa yang akan terjadi😂. Meski gejolak ingin merancang kegiatan seringkali menghampiri. Banyak alasan memang yang bisa diperoleh untuk mengelak apapun yang tidak ingin kita lakukan. Iyakan?😉 Termasuk saya, yang mengaku suka mem-planning namun tak cukup waktu untuk meluangkannya. Nah, di kelas telur ini saya seolah sedang menjadi diri saya dibagian lain yang terlupakan. Alhamdulillah.. Bahagia meski sering mepet mengerjakannya. Tantangannya adalah dibagian menuliskan. Jika mengkonsep, biasanya sejak menyimak materi sudah terprogram apa yang mau dilakukan. Semakin hari semakin jelas sambil melihat waktu kapan mau dituliskan. Alhamdulillah dapat dilalui atas ijin Allah. Semoga apa yang dituliskan dapat menjadi acuan serius dan bekal belajar di 4-5 bulan mendatang. Aamiiin

Bersiap Menjadi Ulat di Belantara Ilmu

Sementara no caption dulu ya🤗

#janganlupabahagia
#jurnalminggu4
#materi4
#kelastelur
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional
#ibuprofesionalbogor